Cerita Terakhir itu Bernama Pulang___


Hari ini kami membicarakan seorang teman yang lebih dulu pergi. Iya, itu pergi yang tidak kembali lagi. 

"Sakit apa?" tanyanya, dengan ekspresi kaget. Lalu seru-seruan lainnya yang seolah mimpi belum percaya, dia benar-benar telah tiada. 

Di grup-grup chat sudah ramai ucapan duka cita. 

Entah besok atau kapan yang pasti suatu hari kita yang akan menjadi topik dalam cerita kepergian itu. Sama. Wajah sedih, kaget, dan semua ungkapan-ungkapan lainnya tentang kita hari itu. 

Padahal baru kemarin berpapasan dengannya, beberapa hari lalu bahkan sempat ngobrol. Dan seterusnya dan seterusnya.

Ada yang mungkin memang mengeluhkan sakit, tapi itu juga keluhan yang sama yang juga sering kita lontarkan. Sedikit pusing, badan tidak nyaman, malah kalau itu hanya tentang sakit ada yang sudah lama di vonis dokter dengan penyakit yang berat tapi sampai hari ini Allah belum memanggilnya.  

Beberapa bahkan terlihat sehat, baik-baik saja saat terakhir bertemu. 

Kapan waktunya akan tiba memang adalah rahasiaNya. Tidak ada satupun makhluk yang bisa menunda atau menyegerakannya. Jika saatnya telah sampai maka itu akan terjadi. Siap atau tidak siap, sehat atau sedang sakit, masih muda atau sudah tua, kaya atau miskin. KetetapanNya tetap berlaku. 

Sepeninggal kita hanya tersisa obrolan yang juga tidak akan berlangsung lama. Hari ini, esoknya, dan besoknya lagi lalu beberapa sudah melupakannya. Cerita kita telah selesai. 

Iya, itu ternyata menjadi cerita terakhir untuk kita.  

Bagaimanakah orang akan membicarakannya? Seperti apa kita dalam obrolan terakhir itu. 

Ada yang baik hati menutup rapat-rapat aib kita karena tahu adab saat membicarakan orang yang telah meninggal dunia. Hanya boleh membicarakan hal baiknya, mendoakannya, memahami bahwa doa yang sama akan kembali padanya. 

Ada yang tanpa perasaan, seenaknya tidak peduli karena boleh jadi kita memang pernah teramat menyebalkan sehingga saat terakhir pun orang tidak tahan untuk tidak membicarakannya lagi. Nasib, kita hanya bisa pasrah menerima bahkan saat hidup pun tidak ada yang bisa mengendalikan mulut setiap orang untuk berbicara ini itu sesuai keinginannya. 

Begitulah. 

Kita memang tidak pernah tahu kapan cerita akhir itu akan bertutur dan seperti apa orang-orang akan membicarakannya. Tapi kita selalu bisa berusaha agar kisah itu baik adanya. Tidak menjadi beban saat perjalanan panjang berikutnya dan kita benar-benar hanya sendirian ketika itu dimulai. 

Bebeberapa cerita, kita memakai kosakata 'pulang' untuk kepergian yang tak lagi kembali. Karena pada hakekatnya kita memang sedang pulang kepadaNya. 

#catatan, senin 1 April 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__