Apa Kabar Semangat?__


Seperti iman yang kadang naik dan kadang turun. Maka semangat menulis kurang lebih sama. Bahkan lebih sering turunnya. Saat sedang naik pun masih dengan berbagai drama gagalnya, yang makin membuatnya terhempas. 

Ketika sedang semangat-semangatnya, misalnya, apa-apa mau segera ditulis malah masih di atas kendaraan dalam perjalanan, benak sudah sibuk menyusun semua narasi bahan tulisan nanti. Kejadian yang baru saja dialami, pun hal-hal yang bahkan tidak penting yang sedang terjadi. Ditata rapi-rapi sambil senyum-senyum membayangkan huruf-huruf itu akan menari merangkai ceritanya. 

Tapi realitanya kadang jauh dari rencana. Hhhh.... Tidak sesuai ekspektasi. Hingga berakhir menjadi hanya sebuah rencana. 

Ada hal lain yang lebih menyita perhatian.  Hingga semua kata yang sudah apik terbengkalai di sudut-sudut benak. Berharap nanti-nanti kalau sudah ada waktu. 

Tapi terkadang saat sudah memiliki kesempatannya. Bersiap. Duduk manis, catatan telah terbuka dan dan kursor biru muda pada layar sudah berkedip menunggu jempol mengetukkan huruf-hurufnya. Namun entah kenapa semua hal yang tadi begitu luar biasa dalam benak hilang entah kemana. Satu dua kalimat selesai, kening turut mengernyit. Membenak tidak demikian. Ada beberapa kata yang tidak pas atau entahlah menghilang, ah apakah jemari yang mengkhianati sang benak atau ekspektasi yang terlampau jauh. 

Entahlah. Dan setelahnya memilih berhenti. Ah, sudahlah lainkali saja. 

Akhirnya terlupa. 

Cerita itu akhirnya selesai tanpa pernah dituturkan. 

Begitulah, tidak selalu semuanya memiliki kesempatan untuk menjadi penghuni lembaran sebuah catatan. Dan sayangnya itu yang sering terjadi. 

Maka bagaimanalah catatan ini akan selalu meriah dengan cerita-cerita yang dijanjikan jika kejadian yang sama 'nanti saja lagi' juga 'kenapa begini' lebih sering terjadi. 

Padahal.... 

Menulis itu memang sebuah keterampilan, maka agar bisa, ya, terus dilatih. Namanya belajar tidak ada yang langsung dan tiba-tiba jago. Sebuah proses yang bernama latihan, belajar, gagal dan berhasil adalah keniscayaan. Jika hari ini buruk, besoknya masih gagal, maka nanti-nanti bisa lebih baik. Lebih baik dari yang kemarinnya begitu seterusnya. Kita hanya perlu untuk terus berusaha dan tidak berhenti. Meski lelah kita hanya perlu jeda sejenak, istirahat, lalu segera beranjak kembali melanjutkan perjalanan.

Menulis itu sebuah komitmen untuk terus berlatih dan berlatih. Tidak berhenti hanya karena alasan 'nanti saja lagi' apalagi sangsi tidak percaya pada diri sendiri 'kenapa begini'

Dan pada akhirnya apapun itu termasuk menulis bukanlah selalu tentang semangat tapi tentang komitmen untuk terus berlatih bahkan jika semangat sedang di titik paling bawahnya.

#JanganPadam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__