Nou_Part 2
Cerita tentang Nou masih berlanjut, bahkan dalam cerita asal mula nama Nou ini diambil sudah jalan beberapa seri. Jadi kenapa tidak, jika cerita tentang kucing di rumah kami juga bisa berpart-part. Walaupun Nou dalam serial bumi itu justru adalah nama si pemilik kucing purba, dan nama kucingnya adalah Si Putih. Tapi kami semua menyukai karakter Nou ini, lalu sepakat memakai namanya.
Tentu saja Nuo ini bukanlah kucing ajaib yang bisa mengeluarkan pukulan berdentum, dan membuat tameng transparan lalu saat menaikkan level boundingnya ukurannya akan bertambah berkali-kali lipat.
Atau, entahlah bukankah dalam cerita fantasi itu kucingnya juga hanyalah kucing biasa, di dalam rumah bergelung malas dimana saja. Kecuali waktu tertentu saat ikut bertualang di dunia paralel dengan kekuatan-kekuatan lama kadang beradu. Dan kucing dengan kekuatan ini juga mengeluarkan kemampuannya.
Tapi ini tentang Nou penghuni halaman samping rumah kami. Meski tidak ajaib ia cukup menggemaskan, berharap ia baik dan bersahabat seperti dalam karakater fiksinya.
Hari berlalu, tapi ternyata nama Nou malah tenggelam oleh nama lain yang lebih familiar, dalam catatan sebelumnya sudah diceritakan. Iya, si Tuti, yang tentu saja memang betina, sedang Nuo jelas-jelas jantan. Jika kenangan tentangnya sangat melekat. Hingga susah melupakan namanya.
Berkali-kali meski selalu saling mengingatkan setiap panggilan itu dipakai, kalau itu Nou, tapi tetap saja lidah kami fasih dengan nama Tuti.
"Baiklah panggil Lembu saja." Suatu hari dalam pembicaraan. Salah satu nama yang diberikan si Anak Muda sejak pertama datang.
Begitulah, sepertinya kami harus melupakan nama Nou, dan kisah kucing petarung yang ikut mewarnainya juga harus selesai.
Lembu kian akrab di rumah ini. Ia jarang meninggalkan teras samping. Tempat favoritnya masih di kursi makan atau di kamar Si Anak Muda.
Bahkan jika ditutupkan pintu, dia sudah punya cara untuk menyelinap masuk. Ventilasi di atas dapur menjadi jalan barunya, awal-awal masih takut-takut lompat. Bahkan harus dibantu dengan menyusun kursi untuk menurunkannya. Hari itu menjadi salah satu drama lembu yang terjebak di atas lemari. Hampir setengah hari, setelah akhirnya ditolong oleh Si anak muda.
Besok-besok, ia lincah bolak-balik lompat.
Percuma pintu di tutup. Kami pasrah saat dia menerobos masuk, hanya perlu menyiapkan makanan untuknya. Karena alasannya tentu saja karena ia lapar.
Itu menjadi moment lucu rasanya saat waktu makan tiba. Dan dia mengendusnya dari luar, lalu bersegera datang dengan wajah memelasnya. Seperti bilang 'mana untuk saya... lapar jugaa' dengan kedua kaki depannya di atas kursi.
Untuk ukuran kucing pendatang, lembu cukup sopan. Cara dia meminta makan. Saat dia seolah mengetuk pintu lalu posisinya yang setengah berdiri itu benar-benar menggemaskan.
Sampai saat ini Lembu belum pernah mengambil makanan yang disajikan di meja dapur atau meja makan. Walaupun pernah dia diam-diam mengambil ikan yang rencana ingin kubakar tapi itu salah kami juga ikan itu diletakkan di tempat cuci piring. Mengira itu adalah jatahnya seperti biasanya dia mencari-cari sisa makanan di sana. Dan, hap, seolah dapat rezeki nomplok.
Komentar
Posting Komentar