Rabu, Bubur dan Ceritanya___
Rabu, Bubur dan Ceritanya___
Judulnya dibuat mirip-mirip dengan film yang baru saja kutonton sambil menikmati aroma bubur menado dari dapur kantorku.
Potongan film yang judulnya ada rabunya ini baru saja lewat di linimasa sosial mediaku. Hari ini Rabu, kan. Pas saja rasanya. Ruangan juga sedang sepi.
Lagi-lagi saya ditinggal sendiri, hahaha... tidak. Hal yang kebetulan setiap menulis disini ketika teman seruangan sedang ada keperluan di luar, bukan benar-benar sendiri satu dua yang lain juga sedang asyik dengan urusannya. Itulah kenapa kubilang sepi.
Setelah ke ruangan sebelah, menyapa lalu berlama-lama disana, bahkan panggilan makan bubur menado kali ini tidak kulewatkan. Meski masih terasa kenyang, saya tetap mengisi piring dan berencana menyimpannya nanti-nanti baru dimakan. Saya harus memenuhinya kali ini mengingat sudah berkali-kali menolaknya dengan alasan sangat kenyang atau harus keluar menjemput ketika waktu makan pas dengan jadwal anakku pulang sekolah.
Buburnya masih mengepul....
Kau, Rabu dan Perkara-Perkara Sepintas Lalu. Itu judul film pendek dari Sutradara Riri Riza sekaligus penulis skenarionya. Menyebut nama itu mengingatkan kita dengan Film fenomenal Ada Apa dengan Cinta. Dan kali ini pemeran utamanya lagi-lagi Nicholas Saputra. Duuh, tidak pernah gagal, sih, kalau dia. Saking bagusnya, tidak mengira film dengan durasi 30 menit itu sebenarnya hanyalah iklan HP. Mengingat semua pengambilan gambarnya hanya menggunakan gadget tersebut.
Meski ceritanya pendek namun cukup dalam. Kualitas gambar juga sama baiknya, jika mengingat hanya pakai HP.
Berkisah tentang seorang penulis yang akan melakukan proofreading novelnya. Pada scene awal sudah diberikan selintas informasi tentang dialog imaginer. Tapi karena gambarnya nyata seorang wanita, namanya Ajeng yang menemani proofreading itu, saya jadi terbawa mengira Ajeng ini adalah hantu yang datang setiap rabu seolah membaca kisah hidupnya. Lalu setelah rabu ke enam dia tidak muncul lagi. Karena ternyata sosok ini memang hanyalah imajinasi si penulis, Ajeng seorang wanita yang ditemukan mayatnya setelah empat hari hilang di sebuah Hutan.
"Satu-satunya tempat yang bisa membuatku merasa memiliki tubuh dan pikiranku sendiri adalah hutan. Di sana pohon-pohon, air sungai, burung-burung tak pernah menuntut apapun" Sepenggal monolog dari film itu.
Iya, sepanjang cerita kita disuguhi dengan dengan kalimat-kalimat puitis, bahkan rasanya kisah ini adalah puisi.
Hari ini benar-benar rabu dan perkara sepintas lalu.
Komentar
Posting Komentar