Menit yang Panjang__
Semenit lagi ketika jam pulang akan berdentang. Itu waktu yang teramat sempit jika ingin menulis dulu sambil menunggu waktu. Seperti biasanya ketika saat-saat sebelum pulang mulai membosankan. Tapi begitulah saya sudah disini dan rasanya tak lengkap jika tidak menoreh kalimat-kalimat ini disini, bahkan jika itu hanya sapa sesaat pun remeh temeh lainnya.
Saya tidak tahu kita akan berada dibagian mana ketika waktu untuk selesai telah tiba. Boleh jadi satu menit itu telah berlalu, tepat huruf ini sudah berada disini. Biarlah, saya sudah terlanjur memulainya.
Kabar baiknya itu hanya waktu pulang kerja yang boleh saja kita majukan dan mundurkan tidak seperti pulang yang sebenar-benarnya pulang. Karena jika itu yang berlaku bahkan jika kalimat di catatan ini belum selesai maka tidak ada kata 'tunggu dulu' untuk menghentikannya.
Satu menit sebelum jadwal pulang kantor.
Iya, benar saja. Saya baru saja mengecek penunjuk waktu di sudut atas gadget ini, dan itu sudah lewat beberapa menit.
Dan seperti biasa, ruangan ini tidak serta merta beranjak pulang. Selalu masih ada yang harus diselesaikan. Selain karena merasa sudah terlambat datang maka tidak apalah juga sedikit telat pulangnya.
Jadi meski semenit lagi waktu tersisa, itu hanya waktu untuk menyelesaikan absensi di aplikasi online, yang sebenarnya juga bisa lewat waktunya. Tapi karena takutnya sebentar terlupa maka saat sudah terbuka maka sebaiknya tidak ditunda. Dan untuk benar-benar pulang itu bisa nanti-nanti saja.
Jadi untuk menulis disini tidak ada kata waktu telah habis. Karena yang biasanya membuatku terhenti tidak lagi melanjutkan catatan ini hanyalah karena saya sudah kehabisan ide. Tidak ada lagi yang bisa kutulis.
Maka ketika kali ini tetiba memulai tulisan, yang meski hanya soal menit terakhir sesaat sebelum pulang. Ini tetap sebuah hal yang tidak boleh diabaikan. Menulisnya terus hingga seperti apapun catatan ini kemudian bercerita.
Bahkan jika hanya iseng ingin mengecek seberapa banyak kata yang bisa selesai dalam semenit.
Dan hari ini saya mengalaminya. Memang tak banyak, hanya ada beberapa kalimat. Malah sering sekali hingga puluhan menit berlalu tidak ada sama sekali kata yang terangkai. Saat memulai sekalipun kalimat itu terhenti dibeberapa bagian. Bahkan pada hal yang tak seharusnya saya berhenti.
Karena begitulah, menulis tidak selalu bisa selancar membaca teks-teks sebuah buku. Ada proses menimbang juga kegiatan berfikir yang seringnya kita malas pada bagian itu. Inginnya yang menyenangkan saja tanpa kerja keras dan semua hal hebat itu selesai. Sesuatu yang tidak mungkin, bukan.
Maka ketika keinginan menulis datang, maka menulislah bahkan jika tidak ada ide untuk dituliskan.
#Tuh, kan. Jadi jangan berhenti.
Komentar
Posting Komentar