Catatan Sepi___
Bangunan gedung itu seperti tumbuh, hanya beberapa hari saja luput tidak memperhatikannya eh tiba-tiba sudah jauh sekali perubahannya.
Hhmmm....
Hari ini mulai lagi kerandoman itu. Ruangan yang senyap. Kantor sedang sepi, hanya sesekali ditingkahi bunyi kertas yang dibuka lembarannya bersamaan dengan suara klik saat dihekter. Itu Fitri, salah seorang honorer di kantor ini menyelesaikan SPJ bulanannya tanpa suara yang berarti.
Gedung yang sementara proses pembangunan di samping kantorku lagi-lagi menjadi objek kegabutanku. Ah, 'gabut' Itu istilah saat ini kalau sedang tidak ada pekerjaan, lalu bingung mau melakukan apa.
Tanganku meraih gorden hijau sage di samping mejaku. Membukanya lebar-lebar.
Melihat keluar dengan seksama. Hal yang sama setiap harinya terlihat, kecuali pembangunan gedung itu tentu saja. Sudah terlihat bentuknya.
Setelah mataku puas melihat setiap jengkalnya, maka hal berikutnya, membuka lembar catatan ini.
Menelusuri sudut-sudut benakku yang sejatinya tidak pernah sepi, di sana selalu penuh keriuhan bahkan terkadang dengan kecamuk perangnya sendiri.
Iya, pernahkah benak kita benar-benar senyap, berhenti dari semua konfrontasi kecil atau besarnya. Rasanya tidak pernah, ia ibarat kantor yang tidak memiliki libur, ia seperti medan perang yang tak pernah usai.
Benak kita, bahkan objek yang hanya ditangkap oleh sudut mata sekalipun itu akan diberikan porsi di sana. Menyusun berbagai asumsi-asumsinya, menetapkan seluruh persepsinya, dan tambahkan kemungkinan-kemungkinan lain yang sebenarnya tidak penting amat. Dan terkadang sesuatu itu bukan urusan kita.
Dan, sesaat kemudian berfikir tentang hal lain lagi. Teringat chat yang sedari tadi tidak ditanggapi padahal sudah terlihat membacanya. Maka berbagai pertanyaan kembali menyerbu kenapa dan kenapa, tidak jarang diikuti pula satu dua tiga hingga tak terbilang prasangka.
Walaupun setelahnya suara bijak dari sudut lain juga tidak henti mengingatkan.
Iya, bukan urusan kita itu sesederhana kau telah mendatanginya, mengetuk pintunya tiga kali tapi dia tidak menanggapi. Ya, sudah. Itu bukan urusan kita. Kita pulang saja, tidak perlu dipikir apalagi dicerita kemana-mana, dia kenapa.... Karena sekali lagi itu bukan urusan kita. Itu hak setiap orang untuk menolak atau menerima.
Untuk sejenak satu hal terlewati dengan aman. Tentang 'bukan urusanku'
Kabar baiknya selalu ada suara-suara bijak dari sudut lain juga tidak henti mengingatkan, sejenak menenangkan dengan seluruh prasangka baiknya.
Sejatinya, setiap hal memang mengajarkan kita untuk melihat dari berbagai sisi.
Seperti apapun keriuhan di dalam benak. Responnya pada apa saja yang memasukinya. Itu selalu tentang seperti apa kita mengisinya.... Informasi, apa yang kita lihat, dan apa yang dibaca setiap saatnya, maka seperti itulah ia bereaksi.
#Juni yang sebentar lagi Pergi
Komentar
Posting Komentar