Kalah atau Menang?



Tulisan ini memang tercetus dari peristiwa hari-hari ini. Kontestasi politik, menang dan kalah dalam pemilu. Kemarin baru saja berlangsung pemilihan Kepala Daerah. Sorenya, hasil hitung cepat sudah bisa dilihat siapa yang unggul dalam perolehan suaranya. 

Alhasil detik itu juga, kata-kata kalah dan menang memenuhi setiap ruang-ruang pembicaraan. 

Beberapa yang merasa telah menang terlihat amat jumawa dengan kemenangannya, sementara yang kalah tentu saja dengan semua ketidaknyamanannya.  

Tentang menang dan kalah, saya tetiba menemukan tulisan menarik milik Bang Akmal, seorang pendakwah. Entahlah momentnya pas saja rasanya dengan suasana saat ini. Meski diawal uraiannya beliau bercerita tentang hasil akhir dari Perang Uhud yang beberapa ulama masih memperdebatkan hasilnya. Karena jika mengingat jumlah korban 70 dikalangan sahabat, dan hanya 20 kaum kafir. Namun jika melihat tujuan musuh untuk menghentikan dakwah Rasulullah maka itu jauh dari kata berhasil. 

Kesedihan atas perang uhud ini memang teramat mengguncang, diantara 70 orang sahabat yang terbunuh 2 diantaranya adalah Hamzah, dan Mushab. Yang pertama adalah Paman Nabi, orang yang paling berani dalam islam, dan yang kedua adalah orang yang paling berperan dalam islamnya Madinah. 

Namun sesaat setelah perang usai, paginya Rasulullah dan para sahabat segera mempersiapkan pertempuran lagi. Darah belum kering, bahkan sesak masih memenuhi dada. 

Sesuai kesepakatan dipilih tempat Hamra Al Asaad untuk kembali bertemu dua pasukan ini. Tapi  setelah tiga hari menunggu, Abu Sufyan yang saat itu menjadi pemimpin pasukan menyalahi janji. Pasukan kafir memilih pulang ke Mekkah. 

Perang Hamra Al Saad memang tidak diceritakan detail tapi dari sana kita melihat bahwa kalah namun mampu bangkit lagi dan segera pulih adalah kemenangan sejati. Apalah arti sebuah kemenangan ketika lalu membuat pemenang itu menjadi sombong dan angkuh. 

Terkadang kita memang terjatuh, bukan berarti hal-hal baik yang diperjuangkan tidak menang. Hanya saja waktunya yang belum tiba, mungkin pelajaran sabarnya yang belum tuntas, maka dengan episode terpuruk ini sesuatu yang indah sedang direncanakan. 

Pun jika berada di posisi sebagai pemenang maka tidaklah berada dipuncak menjadikan kita jumawa melupakan hakikat kemenangan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__