Januari yang Gaduh___



Hari-hari ini ramai lagi kasus anak-anak. Kami menyebutnya demikian, saat ada kejadian yang melibatkan anak, entah mereka sebagai pelaku kejahatan ataupun menjadi korban. 

Pemberitaaan terkait kasus anak memang tidak pernah sepi. Mulai dari bullying, hingga kekerasan fisik yang berujung kematian. 

Belum selesai rasanya, kasus rudapaksa yang dialami siswi SMP oleh 14 pelaku yang sebagiannya adalah anak-anak juga, lalu kematian seorang santri yang ditemukan tergantung di asrama, kini kasus busur-busur  kembali merebak yang setahun lalu juga memakan korban. Belum lagi kabar, anak sekolah yang kerajingan Video Call sembari menunjukkan bagian-bagian tubuh sensitifnya, bahkan video panas mereka ada yang tersebar. Ngeri rasanya membayangkan satu demi satu kejadian ini menimpa anak-anak negeri ini,  yang padanya kelak tanggungjawab bangsa ini di serahkan. 

Daerah ini rasanya teramat kecil untuk menampung semua jenis kejadian miris ini. 

Dulu hal-hal seperti ini rasanya teramat risih diucapkan, aneh ditelinga, dan kita ternganga saat melihat beritanya, kini menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan bukan lagi di berita-berita TV yang kejadiannya di tempat jauh yang sama sekali tidak kita kenali. Sekarang rasanya teramat dekat. Itu seolah mengintai putra putri kecil di sekitar kami, yang kami merasa telah menjaganya dengan baik. 

Apalah daya, kejadian demi kejadian, kabar demi kabar nyatanya membuat kami tercengang bukan kepalang. Apa yang salah dengan anak-anak kami. 

Beberapa waktu yang lalu para pemangku kepetingan duduk bersama membicarakan persoalan ini. Saya membaca headlinenya, sehingga dihasilkan langkah strategis penanganannya. Mulai dari yang sifatnya pencegahan hingga upaya represif yang dilakukan langsung oleh pihak kepolisian. 

Lalu tidak lama kemudian Legislatif juga menunjukkan kepeduliannya terkait isu-isu anak ini. Menurut teman yang ikut hadir, intinya bagaimana anak-anak memiliki kegiatan positif, dan keterlibatan orang tua secara memdalam dalam pengasuhannya. Walaupun tanpa sadar sedikit menyerempet menjadi soal minum susu. Entahlah. 

Yang paling pentingnya kenapa menulis ini adalah semoga menjadi langkah cepat bagi semua unsur, baik Pemerintah, perwakilan Rakyat, hingga seluruh lapisan Masyarakat menyadari betapa hari ini telah Darurat anak-anak. 

Dan,  menjadi orang tua memang tidak memiliki sekolahnya dengan wajib belajar sambilan atau sekian tahunnya. Tapi menjadi kewajiban setiap Ayah Ibu untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__